Pemberdayaan Kelompok Tani Kopi Ronggurnihuta Samosir Melalui Penyediaan Mesin Pulper dan Huller Dry
Isi Artikel Utama
Abstrak
Kecamatan Ronggurnihuta, Kabupaten Samosir, memiliki potensi kopi arabika yang signifikan berkat kondisi agroklimat dataran tinggi kawasan Danau Toba, namun petani terjebak dalam rantai nilai rendah akibat ketiadaan fasilitas pengolahan pascapanen. Tanpa mesin pulper dan huller dry, kopi dijual dalam bentuk cherry pada harga Rp21.000/kg, jauh di bawah harga green bean Grade 1 yang dapat mencapai Rp110.000/kg meskipun setiap 1 kg green bean membutuhkan sekitar 3 kg cherry sebagai bahan baku. Program ini mengadopsi pendekatan intervensi partisipatif berbasis kebutuhan melalui empat tahap: survei lapangan dan pemetaan kebutuhan, pengadaan dan serah terima mesin, pelatihan penggunaan dan perawatan alat, serta pelatihan good post-harvest practices yang mencakup sortasi, pulping, fermentasi, pencucian, pengeringan, dan hulling, yang dilaksanakan bekerja sama dengan Indonesian Diaspora Network of America (IDN-A). Kegiatan melibatkan 18 peserta yang terdiri dari petani kopi, dosen, dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU pada 10 Mei 2026. Hasil menunjukkan kelompok tani mampu mengoperasikan kedua mesin secara mandiri dan memahami standar mutu pascapanen, dengan potensi peningkatan nilai jual produk yang signifikan apabila seluruh rantai pengolahan pascapanen dijalankan secara optimal dan konsisten. Program ini berkontribusi pada penguatan kemandirian ekonomi petani kopi Ronggurnihuta dan selaras dengan SDGs Tujuan 2 tentang Pertanian Berkelanjutan.
Rincian Artikel

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Referensi
Astuti, E. S., Offermans, A., Kemp, R., & Cörvers, R. (2015). The Impact of Coffee Certification on the Economic Performance of Indonesian Actors. Asian Journal of Agriculture and Development, 12(2), 1–16. https://doi.org/10.37801/ajad2015.12.2.1
Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Statistik Kopi Indonesia 2023. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/publication/2024/11/29/d748d9bf594118fe112fc51e/statistik-kopi-indonesia-2023.html
Chambers, R. (1994). The origins and practice of participatory rural appraisal. World Development, 22(7), 953–969. https://doi.org/10.1016/0305-750X(94)90141-4
Dewi, N. L. M. I. M., Putra, I. P. I. P., & Astama, I. K. (2022). The Study of Added Value Analysis of Coffee Processing in Indonesia. Agribusiness Journal, 5(2), 71–78. https://doi.org/10.31327/aj.v5i2.1839
Gamlen, A. (2014). Diaspora Institutions and Diaspora Governance. International Migration Review, 48(S1), S180–S217. https://doi.org/10.1111/imre.12136
International Coffee Organization (ICO). (2023). Coffee Report and Outlook – December 2023. International Coffee Organization. https://www.ico.org/documents/cy2023-24/Coffee_Report_and_Outlook_December_2023_ICO.pdf
Mahyuda, M., Amanah, S., & Tjitropranoto, P. (2018). Tingkat Adopsi Good Agricultural Practices Budidaya Kopi Arabika Gayo oleh Petani di Kabupaten Aceh Tengah. Jurnal Penyuluhan, 14(2), 308–323. https://doi.org/10.25015/penyuluhan.v14i2.19757
Riddle, L., Hrivnak, G. A., & Nielsen, T. M. (2010). Transnational Diaspora Entrepreneurship in Emerging Markets: Bridging Institutional Divides. Journal of International Management, 16(4), 398–411. https://doi.org/10.1016/j.intman.2010.09.009
Simarmata, H. M. P., Wijaya, A., Pardede, H. D., Saragih, D. Y., & Siagian, N. F. (2022). Peningkatan Mutu dan Nilai Tambah Kopi Organik Desa Pardamean Sibisa Kabupaten Toba Samosir. Glow: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(1), 7–13. https://doi.org/10.37403/glow.v2i1.45
Siregar. (2021). Unresolved citation in manuscript: postharvest technology limitations and coffee farmer income in Samosir.
Solikhin, S., & Wicaksono, P. A. (2022). Penerapan Teknologi Pascapanen Mesin Huller Kopi sebagai Sarana Peningkatan Produksi Kopi. Jurnal Pasopati, 4(4). https://doi.org/10.14710/pasopati.2022.15893
Valkila, J. (2014). Do Fair Trade Pricing Policies Reduce Inequalities in Coffee Production and Trade? Development Policy Review, 32(4), 475–493. https://doi.org/10.1111/dpr.12064